Tag Archives: psikologi remaja

Psikologi Anak

Psikologi Anak

Menjadi orang tua, memang tak semudah kelihatannya. Memiliki dan merawat anak, memang merupakan tantangan tersendiri, apalagi untuk mereka pasangan muda yang baru saja memiliki anak. Perlu dicermati, merawat anak bukanlah seperti memelihara setangkai bunga. Ada banyak hal yang perlu dipelajari agar anda mampu menjadi orang tua panutan.

Psikologi Anak

Selain pertumbuhan, perkembangan psikologis juga harus menjadi perhatian orang tua, karena inilah yang akan menentukan akan menjadi seperti apa anak anda. Memang, ada factor hereditas atau keturunan yang menjadikan anak memiliki sifat yang mirip dengan orang tuanya. Namun demikian, si buah hati tak lantas menjadi duplikat kita. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memonitor perkembangan psikis sang buah cinta.

Balita (0 – 5 tahun)

Pertumbuhan mental seseorang, telah dimulai sejak ia dilahirkan. Di fase awal kehidupannya di dunia ini, seorang bayi akan belajar tentang rasa percaya terhadap lingkungan. Orang tua adalah factor utama dalam hal ini. Jika si bayi diberikan kasih saying tulus dan berkesinambungan, maka si bayi akan merasa aman dan nyaman untuk mempercayai lingkungan sekitarnya.

Pada bulan-bulan pertamanya, bayi hanya mampu merasakan emosi marah dan bahagia. Hal itu ditunjukkan dengan dua kemampuan dasar bayi, yaitu tersenyum dan menangis. Di sinilah bayi belajar berinteraksi dengan orang lain. Ia mulai bisa merespon komunikasi sosial lewat ekspresi.

Di tahun pertama dan ke-dua, bayi mulai mengerti tentang perasaan cemas atau takut. Ia akan bereaksi saat ia jauh dari orang terdekatnya. Di usia ini, bayi akan memiliki egosentris yang sangat besar, karena memang belum mengerti tentang kebutuhan, keinginan, dan kepentingan orang lain.

Di tahun ke-dua hingga ke-lima, kita harus cermat dengan pola pengasuhan yang tepat. Di sinilah bayi mulai belajar berpikir. Dan pada usia ini, mereka banyak mengamati kebiasaan orang di sekitarnya khususnya orang tuanya. Kita bisa mulai mengajarkan tentang tanggung jawab dan konsekuensi. Jika ada seorang anak yang tersandung karena berlarian, sering kali anda berkata “Aduh, batunya nakal ya? Adek jadi jatuh deh. Nih mama pukul batunya…” biasa bukan?

Namun ternyata inilah yang menyebabkan anak tumbuh menjadi egois, tak pernah merasa bersalah, dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Sebaiknya yang kita lakukan adalah menasehatinya dengan baik tentang konsekuensi dari sesuati seperti, “nak, makanya jangan lari-larian. Kan jadi jatuh deh. Nanti jangan lari-lari ya..” ini lebih baik, dan membuat anak berfikir tentang ‘aksi-reaksi’.

Anak kecil (5 – 11 tahun)

Di usia 4-5 tahun, kemampuan untuk berinisiatif mulai terasah. Maka, jangan batasi kotak eksperimen buah hati saat bermain. Dengan sebanyak-banyaknya mengeksplorasi alam dan dunia sekitar, serta menjawab berbagai pertanyaan sang anak, maka inisiatifnya dalam menyelesaikan masalah dengan cepat dan logis akan terangsang dan terus berkembang.

Anda pun harus menjadi orang tua yang selalu ada untuk si buah hati di masa 5 – 11 tahun. Kalau dirasa perlu, libatkan diri kita dalam dunia sang anak. Sehingga ia tak segan untuk bercerita tentang semua hal yang ia alami, baik itu saat bermain, bergaul, maupun menemui masalah. Kebiasaan untuk bercerita juga meningkatkan rasa percaya diri. Sehingga, anak anda akan menunjukkan pribadi yang energetic, dinamis, aktif, dan menyenangkan. Rasa percaya diri ini juga diyakini menjadi factor penting yang menunjang keberhasilannya di bidang akademis.

Jadi, siapkah anda menjadi orang tua panutan? Pastinya.

Sumber gambar : http://contentiskinggroup.files.wordpress.com/2010/07/child-psychology.jpg

Related Keyword: