Tag Archives: bawang merah

bawang merah

Bawang Merah

Bawang Merah

Bawang merah dengan nama ilmiah Allium cepa merupakan tanaman yang sangat familiar bagi kita, terutama bagi para ibu yang rutin memasak. Bawang merah yang diperkirakan berasal dari daerah Asia Tengah dan Asia Tenggara ini termasuk golongan tanaman umbi-umbian. Allium cepa sangat jarang ditemukan tumbuh liar. Jenis tanaman ini biasanya dibudidayakan. Menurut catatan sejarah, pembudidayaannya sudah dimulai sejak 7.000 tahun yang lalu. Spesies Allium cepa terdiri dari beberapa varian, tetapi yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah varian aggregatum. Kelompok sayur berwarna merah yang selalu ada di dapur ini sebenarnya merupakan batang yang membesar karena menyimpan cadangan makanan. Selain di bagian umbi, cadangan makanan juga tersimpan di bagian daunnya. Itulah sebabnya mengapa daun bawang juga dapat dimakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, bawang merah lebih banyak digunakan sebagai bumbu dapur. Bersama bawang putih, Allium cepa menjadi komponen wajib di dapur. Karakteristik rasanya yang dapat dipadukan dengan beragam bahan lain membuat bawang merah ada dalam campuran bumbu dari banyak ragam masakan, mulai dari makanan pembuka, menu utama, makanan penutup, makanan kecil, hingga minuman.

bawang merah

Menurut penelitian, Allium cepa memiliki banyak kandungan kimia yang bermanfaat. Kandungan yang dimiliki antara lain yaitu karbohidrat, gula, serat, lemak, protein, tiamin, riboflavin, niasin, asam pantotenat, vitamin B6, kalsium, magnesium, mangan, fosfor, kalium, zinc, fluoride, folat, vitamin C, dan lain-lain. Karena zat-zat yang dimiliki tersebut, bawang merah sering digunakan untuk mencegah maupun mengobati penyakit.

Secara empiris, bawang merah telah digunakan sejak lama dalam praktik pengobatan tradisional di masyarakat. Hingga kini pun, popularitas Allium cepa sebagai bahan pengobatan masih cukup tinggi. Berbagai riset yang dilakukan oleh para ilmuwan juga turut menaikkan citra bawang merah dari sekadar bumbu dapur dan obat tradisional menjadi bahan baku obat modern.
Fenol dan flavonoid adalah dua dari beragam zat aktif yang terdapat dalam bawang merah dan memiliki efek antiinflamasi, antikolesterol, antikanker, serta antioksidan. Berbagai efek farmakologi seperti yang dicontohkan tadi menjadi dasar penggunaan bawang merah dalam terapi kuratif untuk jerawat, batuk, anemia, sakit perut, gigitan nyamuk, sakit telinga, konstipasi, tenggorokan sakit akibat pilek dan batuk, diabetes, asma kronis, bronkitis, membunuh kuman di mulut, dan lain sebagainya. Selain itu, bawang merah juga dapat digunakan untuk mencegah kanker, mengurangi risiko penyakit jantung, mengontrol kadar kolesterol, merangsang pertumbuhan rambut, dan lain sebagainya. Walau memiliki segudang manfaat, bawang merah ternyata mempunyai efek negatif terhadap anjing, kucing, marmut, kera, dan hewan lain jika diberikan dalam dosis besar. Kandungan sulfoksida dalam bawang akan menyebabkan distorsi dan kerusakan sel darah merah yang berakibat terjadinya anemia pada hewan.

Peran Allium cepa ternyata tidak hanya di ranah makanan dan kesehatan. Ribuan tahun lalu jenis umbi ini dimanfaatkan dalam proses pembuatan mumi di Mesir. Air bawang juga bisa diaplikasikan untuk menyemir kaca dan perkakas tembaga agar lebih berkilap. Selain itu juga dapat mencegah karat pada besi. Air hasil seduhan bawang bisa disemprotkan pada tanaman sebagai antihama. Kulit bawang pun dapat diolah menjadi pewarna alami dengan cara merebus dan mengambil air rebusannya. Air inilah yang kemudian digunakan sebagai pewarna. Warna yang dihasilkan antara kuning hingga coklat, tergantung dari rasio air yang ditambahkan. Dalam bidang pendidikan, tanaman ini juga berjasa besar. Karena memiliki ukuran sel yang relatif besar, bawang merah paling sering digunakan sebagai obyek percobaan, terutama dalam materi dasar tentang mikroskop dan struktur sel.

Sumber gambar: http://www.cnseed.org/wp-content/uploads/Dutch%20Shallot%20Allium%20cepa%20Aggregatum.jpg

Related Keyword: