Lari Jarak Pendek

Lari Jarak Pendek

“Run, Forrest… Run..”

Untuk anda yang mengenal potongan dialog di atas, tentu sudah bisa menebak adegan berikutnya. Ya, berlari. Di dalam filmnya pun, Forest Gump selalu melakukan lari secepat mungkin, untuk menghindari orang-orang yang berniat jahat kepadanya. Nah, sedikit mirip dengan bahasan kita berikut ini, lari jarak pendek.

Sprint, atau lari jarak pendek adalah salah satu nomor di cabang atletik, khususnya lari. Untuk nomor ini, jarak yang harus ditempuh pelari adalah 50 meter hingga 400 meter. Melihat jaraknya yang cukup pendek, maka kecepatan lah modal utama bagi sang pelari. Untuk mendapatkan kecepatan yang tinggi, maka kontraksi otot yang kuat dan cepat, kemudian diubah menjadi gerakan halus yang efisien, sehingga membuat si pelari mampu berlari dengan  cepat. Namun demikian, untuk menjadi sprinter handal, ada beberapa hal yang perlu dipelajari.

Teknik start.

Inilah titik pertama yang menentukan, agar seorang pelari dapat memenangkan perlombaan. Ada tiga teknik start yang umum yaitu teknik start melayang, start berdiri, dan start jongkok. Ketiga teknik ini sangat berbeda, sesuai nomor lari yang diperlombakan. Khusus untuk lari jarak pendek, gunakan teknik start jongkok atau croucing start.  Dengan menggunakan teknik start jongkok, maka pelari akan mendapatkan tolakan kaki yang lebih baik untuk menambah kecepatannya sejak awal berlari.

Lari Jarak Pendek

Teknik berlari

Berbeda dengan nomor jarak jauh atau marathon dimana si pelari harus berlari dengan kecepatan bertahap untuk menghemat staminanya, sprint  mengharuskan anda untuk berlari sekencang mungkin. Gerakkan yang dianjurkan adalah mengangkat lutut setinggi mungkin, sehingga membuat langkah kaki semakin lebar. Langkah yang dibuat juga diusahakan secepat mungkin. Untuk tumpuan, gunakanlah selalu ujung telapak kaki dengan lutut sedikit dibengkokkan, untuk menjaga kecepatan tetap stabil.

Posisi tangan juga mempengaruhi kecepatan berlari. Ayunkan lengan secara berlawanan dan seirama dengan langkah kaki, dengan posisi siku sedikit dibengkokkan. Jangan sampai, gerakkan atau ayunan lengan yang salah justru menghambat laju lari anda. Posisi badan saat melakukan lari jarak pendek condong ke depan secara wajar, untuk memudahkan saat membelah udara. Biasanya, tingkat kecondongan tubuh berkisar antara 50 – 60 derajat.  Perhatikan juga posisi kepala dengan tulang punggung. Posisi yang benar adalah berada dalam satu garis lurus, yang memastikan jalur berlari tetap lurus.

Usahakan semua otot rileks saat berlari, khususnya otot leher dan rahang. Biasanya ini didapatkan melalui proses pemanasan atau peregangan sebelum berlari. Sehingga resiko terjadinya cidera otot akan berkurang. Stretching  sesaat sebelum berlari, membuat otot-otot di tubuh kita akan menjadi rileks, lentur, dan siap digunakan dengan cepat.

Pandangan pun harus tertuju ke depan, sehingga akan menjaga focus anda selama berlari dan tidak berpindah jalur sehingga tak akan mengganggu pelari lain.

Finish

Inilah penentuan apakah seorang pelari berhasil memenangkan lomba atau tidak. Ada beberapa hal terlarang saat memasuki garis finis, yaitu melompat saat finis, dan menggapai pita di finish line. Saat akan menembus garis akhir, posisi dada dibusungkan ke depan, tanpa mengurangi kecepatan berlari. Jika diperlukan, jatuhkan salah satu bahu ke depan saat menjelang finis. Begitu anda berhasil melewati garis penentuan, bentangkan tangan anda, dan bernafaslah untuk memberi kelancaran pada aliran darah. Sesuaikan kecepatan berlari untuk berhenti secara perlahan. Jangan berhenti secara tiba-tiba. Dengan berhenti secara perlahan, maka anda member kesempatan bagi otot untuk menyesuaikan diri. Sehingga setelah berlari, tidak akan ada cedera yang melanda otot, khususnya pada bagian pinggang ke bawah.

sumber gambar :http://bit.ly/18fTngr

Related Keyword:

Protected by Copyscape Online Plagiarism Finder