imunisasi

Imunisasi

Imunisasi merupakan tahap awal dari anak yang sehat. Program imunisasi dapat mengurangi terjadinya penyakit anak tertentu termasuk campak, polio dan tetanus. Imunisasi juga dapat mencegah penyakit seperti polio dan difteri. Jadwal rutin imunisasi dapat dilakukan sejak anak lahir hingga usia 6 tahun.

0 – 2 Bulan
Saat bayi lahir imunisasi pertama harus diberikan, yaitu vaksin hepatitis B. Vaksin ini akan melindungi tubuh terhadap hepatitis B yang dapat menginfeksi hati dan dapat menyebabkan kematian. Imunisasi ini dapat diberikan pada usia bayi 1 hingga 2 bulan. Memasuki usia 2 bulan, ada beberapa jenis imunisasi yang harus diberikan seperti vaksin difteri, tetanus serta pertusis aseluler (DTP), polio, dan sebagainya.

6 – 18 Bulan
Pada usia anak 6 hingga 8 bulan, merupakan dosis akhir dari tahapan awal vaksin pada bulan-bulan sebelumnya. Vaksin ini mencangkup Hepatitis B dan rotavirus. DPT akan diberikan dua kali, pada saat usia anak 6, dan kemudian dilakukan kembali pada usia 15 hingga 18 bulan. HIB juga akan diberikan 2 kali, saat 6 bulan dan 12 hingga 15 bulan. Vaksin polio juga diberikan antara usia 6 hingga 18 bulan. Selain itu, masih ada juga beberapa vaksin yang dapat diberikan pada usia ini. Biasanya dokter akan memberitahukan orangtua, jenis apa yang akan dijalankan, serta memberikan jadwal penyuntikan.

2 – 3 Tahun
Di masa ini, merupakan dosis akhir dari pneumokokus. Biasanya kan diberikan ketika anak berumur 2 hingga 6 tahun. Selama masa ini, hepatitis A juga dapat diberikan.

4 – 6 Tahun
Pada masa ini, beberapa dosis akhir juga dapat dilakukan termasuk DTP, polio, campak, gondok juga rubella. Khusus imuniasi influenza, dapat diberikan secara tahunan.

imunisasi

Sebagai orangtua, Anda dapat mencari berbagai informasi sebelum berkunjung ke dokter, agar dapat mengurangi kekhawatiran terhadap vaksinasi yang akan diberikan pada bayi Anda. Vaksinasi rutin ini dianjurkan agar dapat melindungi anak Anda terhadap berbagai penyakit. Meskipun vaksin ini aman, namun terkadang ada juga beberapa efek samping yang dihasilkan. Beberapa efek samping umum adalah:

Demam
Banyak bayi akan mengalami demam ringan setelah menerima vaksinasi. Jika demam terjadi, Anda dapat mengukur suhu bayi terlebih dahulu dan menjalankan sesuai dengan anjuran dokter. Biasanya dokter akan memberikan penjelasan tentang hal ini ketika anak di imunisasi. Untuk mengurangi demamnya, hindari bayi mengenakan pakaian tebal dan pastikan mendapat banyak cairan. Anda bisa memandikan anak Anda dalam air hangat, tapi jangan gunakan air dingin atau dingin, karena hal ini akan menyebabkan menggigil, yang benar-benar dapat meningkatkan suhu tubuh. Ikuti petunjuk dokter untuk menggunakan obat pereda non-aspirin, seperti acetaminophen (Tylenol misalnya) atau ibuprofen (misalnya Motrin). Beritahu dokter jika demam bayi tidak mereda atau memburuk.

Reaksi Umum
Tetap dekat dengan buah hati sampai beberapa hari berikutnya setelah menerima vaksinasi. Perhatikan bagian bekas suntikan, apakah menyisakan pembengkakan atau kemerahan dan nyeri. Jika terjadi hal ini, Anda dapat menggunakan kain basah sebagai kompres tempat pembengkakan tersebut, atau jika diperlukan dapat menggunakan acetaminphen atau ibuprofen sebagai pereda nyeri tambahan. Jika reaksi meningkat setelah 24 jam, bawalah anak pada dokter Anda.

Sifat Pemarah
Beberapa bayi akan mudah marah dan rewel setelah vaksinasi karena rasa sakit dan demam. Anda juga mungkin akan melihat penurunan nafsu makan dan meningkatkan kantuk.bEfek samping ini adalah normal dan tidak memerlukan pengobatan tambahan kecuali tetap berlangsung lebih dari 48 jam setelah vaksinasi. Jika kondisi bayi Anda tidak membaik dalam jangka waktu tersebut, memberitahu penyedia layanan kesehatan Anda.

Tips
Jika Anda membutuhkan varian obat dalam mengatasi efek samping pada anak setelah menjalankan imunisasi, disarankan agar menanyakan kepada dokter Anda, jenis obat yang baik bagi bayi Anda.

Sumber gambar: http://assets.kompas.com/data/photo/2010/10/02/1041149p.jpg

Protected by Copyscape Online Plagiarism Finder