hipertensi

Hipertensi

Hipertensi

Tekanan darah dapat diukur dalam dua angka yang terdaftar sebagai pecahan. Angka pada bagian atas adalah sistolik, yang mewakili saat jantung berdetak, sedangkan angka di bagian bawah adalah diastolik yang mewakili saat jantung beristirahat. Tekanan darah biasanya memberitahu Anda seberapa keras jantung Anda bekerja untuk memompa darah melalui tubuh Anda. Ketika tekanan darah seseorang meningkat, maka orang tersebut dapat berkemungkinan terkena serangan penyakit jantung karena otot jantung bekerja lebih keras dari yang diperlukan.

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung, serangan jantung dan stroke. Dalam kebanyakan kasus hipertensi tanpa disertai adanya tanda-tanda atau gejala, yang berarti sangat penting untuk memeriksakan tekanan darah secara teratur agar tetap dalam kondisi normal. Ada klasifikasi hipertensi berdasarkan pada seberapa tinggi tekanan darah seseorang. Memahami klasifikasi atau tahap hipertensi dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menurunkan tekanan darah, akan membantu seseorang untuk menghindari penyakit serius.

Pra Hipertensi
Sebelum Anda didiagnosis dengan tekanan darah tinggi, Anda mungkin didiagnosis dengan prehipertensi. Diagnosis ini berfungsi sebagai tanda peringatan. Hal ini dapat saja terjadi ketika tekanan seseorang mencapai antara 120-139 mm Hg,80-89 mm Hg, atau bahkan lebih. Sedangkan tekanan darah yang ideal adalah sekitar 120/80 mm Hg atau sedikit lebih rendah. Pada tahap ini dokter anda dapat merekomendasikan perubahan pola makan serta gaya hidup untuk membantu mencegah hipertensi.

Hipertensi Tahap 1
Dokter biasanya akan melakukan tes tekanan darah tinggi pada selama beberapa kali terhadap pasien sebelum menyimpulkan sebuah diagnosis. Mendiagnosis hipertensi tidak dapat hanya dengan melakukan satu kali pengujian saja. Namun, jika pada beberapa kunjungan, seorang pasien ternyata memiliki tekanan darah Anda adalah antara 140-159 mm Hg lebih dari 90 sampai 99 mm Hg, pasien tersebut mungkin di diagnosis menderita hipertensi stadium 1. Dokter biasanya akan menyarakankan pasien tersebut dengan pola makan khusus atau mencoba diet, olahraga, manajemen stres dan perubahan gaya hidup lainnya untuk jangka waktu beberapa bulan sebelum merujuk pada jenis obat-obatan tertentu.

hipertensi

Hipertensi Tahap 2
Hipertensi Tahap 2 biasanya didiagnosis ketika tekanan darah pasien naik hingga lebih dari 160 mm Hg atau lebih tinggi dari 100 mm Hg. Pada tahap ini ada berbagai obat yang dapat membantu pasien untuk membawa menurunkan angka ini. Sebuah studi mengklaim bahwa kedua angka memang penting, namun dokter Anda akan lebih fokus terhadap nomor sistolik yang dihasilan. Pengujian ini dapat berkorelasi dengan penumpukan plak di arteri, yang merupakan penyebab utama hipertensi.

Hipertensi Krisis
Jika tekanan darah sistolik seorang pasien naik hingga mencapai lebih dari 180 mm Hg atau memiliki angka diastolik di atas 100 mm Hg, pasien ini mungkin mengalami hipertensi krisis. Situasi ini membutuhkan perhatian medis segera karena mungkin menjadi tanda peringatan serangan jantung atau stroke. Seiring dengan tekanan darah tinggi Anda, waspada untuk sakit kepala, nyeri dada atau tekanan pada bagian dada, pusing, kesulitan bernapas, berkeringat, kesulitan bicara, merasa lemah, kehilangan koordinasi otot, merasa gelisah atau tidak enak badan.

Hipertensi Sekunder
Para ahli juga menyatakan bahwa kadang-kadang hipertensi dapat disebabkan oleh kondisi medis lain. Penyakit yang mempengaruhi adalah ginjal, kelenjar adrenal, kelenjar tiroid, penyakit pembuluh darah, tumor dan bahkan juga terdapat beberapa efek samping obat, bisa menyebabkan hipertensi. Seseorang dengan hipertensi sekunder, dapat memberikan perubahan pada kondisi yang mendasari terjadinya tingginya tekanan darah, sehingga dapat menurunkan tekanan darah.

Sumber gambar: http://dokita.co/blog/wp-content/uploads/2012/07/hipertensi.jpg

Related Keyword: