daun dewa

Daun Dewa

Daun Dewa

Daun dewa memang sering dikenal sebagai tanaman anti kanker. Para ahli melakukan berbagai penelitan untuk memperkuat anggapan itu. Daun dewa memiliki efek yang dapat menghambat pertumbuhan sel-sel penyakit kanker yang mematikan. Hal ini dikarenakan tanaman ini mengandung asparaginase, yaitu semacam enzim yang dapat menghambat protein dengan cara menghidrolisis asparagin (asam amino yang sangat dibutuhkan oleh sel kanker atau tumor) menjadi asam aspartat dan amonia. Hal ini dapat mengakibatkan sel-sel kanker itu terhambat pertumbuhannya dan mati. Kandungan alkaloid, saponin, flavonoid dan tanin, juga erat kaitannya dengan khasiat anti kanker dan antioksidan. Penelitian semakin dilanjutkan, dan menemukan bahwa etanol yang terkandung dalam Gynura procumbens dapat menghambat pertumbuhan tumor padu pada mencit akibat pemberian benzo(a)piren, yang berfungsi sebagai karsinogen kimiawi.

Di Thailand sendiri, daun dewa diolah dan digunakan sebagai obat tradisional antiinflamasi, anti radang, rematik, dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan oleh virus. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak famili Compositae ini juga mampu menekan kadar kolesterol dan trigliserid dalam darah (saat itu dilakukan percobaan pada tikus), yang terkena diabetes.
Daun maupun umbi dewa, keduanya dapat digunakan sebagai obat. Daun dewa memiliki berbagai khasiat seperti mengobati mema dan menghentikan pendarahan. Khasiat lain juga bisa digunakan untuk mengatasi bengkak payudara, infeksi kerongkongan, keterlambatan haid, dan juga mengobati gigitan dari hewan berbisa. Umbi dewa sendiri memiliki khasiat untuk mengobati patah tulang, pembekuan pada darah, bengkak, dan juga dapat menghentikan pendarahan paska melahirkan. Tanaman herba ini bersifat alami dan berkhasiat antikoagulan, yaitu dapat mencairkan gumpalan darah, merangsang sirkulasi dan menghentikan pendarahan. Tanaman dewa juga dapat berfungsi sebagai antitoksis dan antipiretik.

daun dewa

Tanaman dewa yang dihaluskan dapat digunakan untuk mengobati kutil, karena mengandung saponin yang bersifat hemolitik, yang dapat memeach sel darah merah. Terjadinya kutil disebabkan terdapatnya sel-sel jaringan yang sudah pecah, tetapi tidak dapat dibersihkan dan tidak dapat dikeluargan dari tubuh melalui ginjal. Dengan saponin, sampah jaringan ini akan dipecah dan dibersihkan secara tuntas.
Daun dewa juga banyak disukai sebagai lalapan. Rasa khasnya yang mengandung minyak atsiri akan terasa saat daun telah dilumat. Beberapa kasus menunjukkan, kebiasan mengkonsumsi daun dewa yang sehat dan segar dapat menyembuhkan penyakit ginjal, bahkan dapat mengecilkan tumor.
Asal Usul Daun Dewa

Daun dewa merupakan tumbuhan asal Myanmar dan Cina, yang kemudian masuk ke Indonesia melalui Srilanka. Tanaman ini kemudian dikembangkan oleh orang pribumi untuk diolah menjadi obat herbal. Nama daun dewa sendiri berasal dari Sumatera, mengambil nama dari bagian tepi daun yang bergerigi seperti ornamen baju para dewa. Tidak jarang juga yang menyebutnya sebagai beluntas cina, sedangkan orang asli Cina menyebutnya samsit atau sanqicao.
Daun dewa Gynura procumbens merupakan terna tahunan. Bentuknya tegak, dan memiliki tinggi sekitar 50 – 100 cm. Umumnya di tanam di pekarangan sebagai tanaman obat. Batang muda berwarna hijau, dan jika tua akan bercabang menjadi banyak. Daun umumnya lebih rimbun pada bagian bawah, dan jarang pada ujung batang. Daun bersifat tunggal, berbulu, berbentuk mirip dengan segitiga dan bulat telur. Tulang daun menyirip, warna permukaan atas hijau tua dan bagian bawahnya berwarna hijau muda. Panjang daunnya sekitar 8 – 20 cm, lebarnya mencapai 5 – 10 cm. Bunga terdapat pada ujung tangkai, dan berbentuk seperti bonggol. Warna oranye kemerahan dengan bau yang kurang sedap. Akar pohon dewa berbentuk umbi berwarna keabu-abuan dengan panjang 3 – 6 cm, dan memiliki diameter sekitar 3 cm.

Sumber gambar: http://easyurl.net/f8cf4

Related Keyword: